SATUPEDIA

 
 
POPULAR ENTRY
 

NEWS

Home

Beberapa Asuransi Akan Naikkan Investasi Reksa Dana dan Obligasi

Posted by : Admin on Thursday, November 24, 2011 | 3533 Hits

JAKARTA (IFT) – Beberapa perusahaan asuransi berencana meningkatkan investasi reksa dana dan obligasi. PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) dan PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) akan memperbesar porsi investasi reksa dana dan obligasi baik pemerintah maupun korporasi yang mampu memberikan return tinggi untuk mengatasi pengurangan return suku bunga deposito pasca-penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, BI Rate.

Solihah, Direktur Keuangan Jasindo, mengatakan hingga Oktober 2011 perusahaan memiliki dana investasi sebesar Rp 1,7 triliun dengan hasil investasi Rp 125 miliar. Penempatan investasi terbesar pada deposito Rp 800 miliar, obligasi Rp 374 miliar, dan reksa dana Rp 116 miliar.

Ia mengakui tidak mudah memindahkan portofolio deposito ke instrumen lain karena bank-bank tempat menempatkan deposito adalah mitra perusahaan yang memberikan kontribusi premi cukup besar. "Istilahnya reciprocal business. Mereka memberikan premi, kami menempatkan dana di deposito mereka,” jelasnya.

Perusahaan akan menggunakan dana dari pendapatan untuk memperbesar portofolio instrumen lainnya, seperti obligasi. Penempatan dana pada instrumen ini pada akhir tahun 2011 ditargetkan Rp 400 miliar-Rp 425 miliar.

Menurut Solihah, banyak obligasi yang menarik minat perusahaan. Standar obligasi yang menarik adalah yang memberikan kupon di atas deposito dengan tenor tiga hingga lima tahun dan rating minimal A.

"Sukuk juga menarik jika imbal hasilnya cukup tinggi. Penurunan BI Rate sebesar 50 basis poin ke level 6% membuat sukuk menjadi salah satu alternatif tempat investasi,” katanya. Saat ini perusahaan memiliki investasi pada sukuk pemerintah sebesar Rp 10 miliar dan sukuk korporasi Rp 9 miliar dari total investasi obligasi.

Kebijakan Konservatif

Willy Suwandi Dharma, Presiden Direktur Adira Insurance, mengatakan hingga Oktober 2011 dana investasi sebesar Rp 2,2 triliun dengan hasil investasi gross 8% atau Rp 176 miliar. Deposito dan obligasi merupakan instrumen terbesar dengan komposisi berimbang. "Kami tetap konservatif dalam memilih instrumen,” kata dia.

Hardianto Wirawan, Sekretaris Perusahaan Adira Insurance, mengaku memilih strategi konservatif karena dana investasi yang digunakan merupakan milik nasabah sehingga diutamakan untuk membayar klaim.

Penurunan BI Rate membuat Adira Insurance berencana meningkatkan investasi pada obligasi. Tahun depan, perusahaan akan mulai berinvestasi pada sukuk senilai Rp 5 miliar-Rp 10 miliar. Menurut Willy, sukuk merupakan instrumen yang menarik bahkan bisa lebih menarik dibanding obligasi konvensional. Perusahaan akan mencari sukuk yang memberikan yield sama atau lebih besar dari obligasi konvensional.

Perusahaan juga tertarik menerbitkan sukuk untuk pendanaan unit syariah. "Modal syariah saat ini sudah harus dibukukan terpisah dari modal konvensional. Sukuk juga mulai diminati perusahaan asuransi lain,” kata Willy.

Adira Insurance juga tertarik berinvestasi pada reksa dana. Perusahaan masih menunggu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih stabil.

Tidak Berubah

Dua perusahaan asuransi umum, PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI) dan PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI) tidak akan mengubah komposisi investasi hingga akhir tahun ini. Agus Benjamin, Presiden Direktur Lippo Insurance, mengatakan hasil penempatan investasi saat ini sudah memberikan hasil yang maksimal. Perusahaan menempatkan sebagian besar investasi pada saham yang dapat memberikan imbal hasil maksimal. Hasil investasi digunakan untuk membayar klaim peserta asuransi. "Kami juga menempatkan dana pada deposito untuk menjaga likuiditas," kata Agus.

Total dana investasi yang dimiliki Lippo Insurance hingga kuartal III 2011 mencapai Rp 752,54 miliar, naik 59,59% dari periode yang sama tahun lalu Rp 471,53 miliar. Perusahaan akan mempertahankan komposisi investasi hingga tahun depan dengan menempatkan sebagian besar dana pada saham. Perusahaan sudah menempatkan dana pada saham sudah lebih dari Rp 542 miliar dari total aset yang dimiliki Rp 900 miliar.

Jenry Cardo M, Direktur Keuangan Asuransi Bintang, mengatakan perusahaan menempatkan porsi terbesar investasi pada deposito. Penurunan BI Rate diperkirakan tidak banyak mempengaruhi hasil investasi yang dimiliki perusahaan.

Cara lain untuk meningkatkan hasil investasi adalah penjualan aset berupa properti. "Selama ini memang aset properti kami tidak banyak dimanfaatkan, kalau itu dijual pasti akan meningkatkan hasil investasi tetapi hal itu baru berupa opsi, belum pasti dijual," kata Jenry.